Tampilkan postingan dengan label Akhlak Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Konsep Tentang Ittihad dan Hulul.


Konsep Tentang Ittihad dan Hulul.

PENDAHULUAN
Beberapa Konsep Tasawuf Falsafi Tentang Tuhan
Pantheisme[1], adalah ide dasar dari tasawuf falsafi. Pantheisme berasal dari kata yunani, yaitu pan yang berarti semua dan theos yang berarti Tuhan. Jadi pantheisme adalah  paham  yang menganggap Tuhan adalah immanen [ada di dalam] makhluk~makhluk. Dengan kata lain Tuhan dan alam adalah sama. Hal yang sama ditegaskan oleh Hamka, bahwa tasawuf jenis ini tidak dapat dikatakan sepenuhnya tasawuf dan juga tidak dapat sepenuhnya dikatakan filsafat.[2]Ia muncul dalam bentuk masa kini yang diantaranya mempunyai pula unsur-unsur atestik, politeistik dan teistik.[3]
Kaum sufi falsafi menganggap bahwasanya tiada sesuatupun yang wujud kecuali Allah, sehingga manusia dan alam semesta, semuanya adalah Allah. MerekA tidak menganggap bahwasanya Allah itu zat yang Esa, yang bersemayam diatas Arsy. Dalam tasawuf falsafi, tentang bersatunya Tuhan dengan makhluknya, setidaknya terdapat beberapa term yang telah masyhur yaitu ; hulul, wadah al~wujud dan ittihad.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MAQAMAT


MAQAMAT
Tasawuf sebagai salah satu mistisme, dalam bahasa inggris disebut sufisme. Dikatakan sufi karna pada zaman dahulu para zahid lebih suka menggunakan kain berbahan kasar atau wool.[1] Dan untuk mencapai tingkat sufisme tidak hanya dengan berpakaian wool tapi juga dengan mencapai beberapa tingkatan yaitu maqomat.
Maqamat menurut bahasa adalah tahapan, tingkatan atau kedudukan. Sedangkan menurut istilah adalah merupakan tahapan yang ditempuh oleh para pengawal tasawuf untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
ntuk mencapai kesempurnaan spiritual dan kualitas akhlak, yaitu, harus memiliki ibadah, kesungguhan dan latihan-latihan untuk menjadi Al-Thusi. Seorang salik untuk mencapai kedekatan Kepada Allah SWT.
Maqom tertinggi dari para sufi adalah Ma’rifatullah, dengan mata hati (basirah) melihat Allah dengan mata hati diyakini dapat dilakukan semasa hidup di dunia bagi siapapun hamba Allah yang dikaruniai hati Yang suci dan bersih terbebas dari godaan dan hawa nafsu dan kecenderungan terhadap kehidupan duniawi. Maqom fana itu merupakan hasil dari usaha spritual atau mujahadah.
Dalam menempuh maqomat sufi atau calon sufi senantiasa melakukan bermacam-macam ibadah, mujahadah dan riyaadhoh yaqng sesuai dengan ajaran agama sehingga satu demi satu maqom itu dilaluinya, dan sampailah ia pada maqom puncak, yaitu ma’rifatullah. Menunjuk pada peringkat terakhir dari peringatan tauhid yang berhasil dicapai seorang sufi yang telah mencapai ma’rifat, yakni, tauhidjat. Dalam keadaan demikianm seorang hamba benar-benar menyaksikan bahwa yang benar-benar dan hanyalah Allah.[2]
Maqom sendiri adalah kedudukan seorang hamba dalam perjalanan menuju Allah. Atau keberadaan seseorang dijalan Allah. Maqom merupakan hasil mujahadah seorang hamba yang dilalui secara bertahap melalui kriteria tertentu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DASAR-DASAR TENTANG TASAWUF


DASAR-DASAR TENTANG TASAWUF
Pengertian Tasawuf secara Etimologi
    Dalam mengajukan teori  tentang tasawuf, baik secara etimologi maupun secara istilah, para ahli ternyata . secara etimologi , pengertian tasawuf menjadi beberapa macam , seperti di bawah ini:
    Pertama, tasawuf berasal dari istilah yang di konotasikan dengan “ahlu suffah”, yang berarti sekelompok orang di masa Rasulullah yang hidupnya banyak berdiam di serambi-serambi masjid, dan mereka mengabdikan untk beribadah kepada Allah.
    Kedua, ada yang mengatakan tasawuf itu berasal dari kata “shafa”. Kata “shafa” ini berbentuk fi’il mabni majhul sehingga menjadi isim mulhaq dengan huruf ya’ nisbah, yang berarti sebagai nama bagi orang-orang yang “bersih” atau “suci”. Maksudnya adalah orang-orang yang menyucikan dirinya di hadapan Tuhan-Nya.
    Ketiga ada yang mengatakan  bahwa istilah tasawuf berasal dari kata “shaf”. Makna “shaf” dinisbahkan kepada orang-orang yang ketika shalat selalu berada di shaf yang paling depan.
   Keempat, ada yang mengatakan istilah tasawuf dinisbahkan kepada orang-orang dari bani Shufah.
   Kelima, tasawuf ada yang menisbahkan dengan kata dari bahasa Grik atau Yunani, yakni “saufi”. Istilah ini disamakan maknanya demgan kata “hikmah” yang berarti kebijaksanaan. Orang berpendapat seperti ini adalah Mirkas, kemudian di ikuti oleh Jurji Zaidan, dalam kitabnya “adab Al-lughah Al-arabiyah”, yang menyebutkan bahwa para filosofis yunani dahulu telah memasukan pemikiran atau kata-katanya yang di tuliskan dalam buku-buku filsafat yang penuh mengandung kebijaksanaan. Ia mendasari pendapaatnya dengan argumentasi bahwa istilah sufi atau tasawuf tidak di temukan sebelum ada penerjemahan kitab-kitab yang berbahasa yunani kedalam bahasa Arab. Pendapat ini juga oleh Nouldik, yang mengatakan bahwa dalam penerjemahan dari bahasa yunani kedalam bahasa Arab terjadi proses asimilasi. Misalnya orang arab metransliterasikan huruf  “sin” menjadi “shad”, seperti dalam kata tasawuf.[1]
    Keenam ada juga yang mengatakan tasawuf itu berasal dari kata “shaufanah”, yaitu sebangsa buah-buahan kecil berbulu banyak yang  tumbuh di padang pasir di tanah Arab dan pakaian kaum sufi berbulu-bulu seperti buah itu pula, dalam kesederhanaanya.[2]
    Ketujuh, ada juga yang mengatakan tasawuf itu berasal dari kata “shuf” yang berarti bulu domba atau wol.[3]
    Dari ketujuh Term diatas, yang banyak di akui kedekatanya dengan makna tasawuf yang di pahami sekarang ini adalah term yang ketujuh,yakni Term “shuf”.[4]
Mereka cenderung mengakui Term ketujuh, antara lain Al-kalabadzi, Al-syukhrawardi, Al- Qusyaeri, dan lainnya walaupun dalam kenyataanya tidak setiap kaum sufi memakai pakaian Wol.
     Barmawie Umarie , mengatakan bahwa dari term-term di atas, belum ada yang menggoyahkan pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf itu berasal dari wazan (timbangan) tafa’ul yaitu: tafa’ala yatafa “alu-tafa”ulan dengan imbangannya, yaitu tashawwafa-yatashawwafu-tashawwufan.[5] 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN DALAM AKHLAK ISLAM


PERKEMBANGAN PEMIKIRAN DALAM AKHLAK ISLAM
Pertumbuhan dan perkembangan akhlak (etika) dalam pendekatan bahasa sudah dikenal dengan istilah adat istiadat(al-adah/tradisi) yang sangat dihormati oleh semua masyarakat.
A.  AKHLAK FASE YUNANI
Kemumgkinan bangsa yang pertama membahas akhlak secara ilmiah adalah bangsa Yunani . Para ahli filsafat Yunani menaruh besar perhatiannya kepada soal akhlak. Saat itu terdapat kaum Sufsata , yaitu golongan ahli filsafat yang mengajar para pemuda Yunani untuk menyiapkan diri menjadi patriot-patriot yang berakhlak . Pemikiran mengenai kewajiban-kewajiban tersebut mendorong mereka untuk memikirkan pokok dan asal-usul akhlak. Mereka mencela golongan orang-orang yang memegang kukuh ajaran dan adat istiadat kuno, dimana mereka hanya mengikuti ajaran-ajaran yang terdahulu.
Kemudian Plato datang, dia menentang ajaran dan adat kuno melainkan melakukan koreksi terhadap golongan angkatan muda. Menurut pendapatnya dengan jalan ocehan dan cemoohan hakikat kebenaran itu akan tertolong. Mereka mengartikan nama “Sufsatah” yaitu “kekacauan” sehingga nama mereka menjadi jelek , padahal kadang mereka mempunyai pandangan yang lebih teliti dan lebih hebat dalam memberikan kesadaran dan kemerdekaan dari takhayul.
Socrates (469-339 SM) datang, dia mencurahkan segala perhatiannya pada soal-soal sumber perkembangan alam dan kesalahan-kesalahan langit. Menurutnya yang perlu diperhatikan ialah apa yang menjadi dasar sesuatu perbuatan dalam kehidupan manusia. Socrates berpendapat bahwa akhlak (etika) dan perilaku manusia tidak akan benar, kecuali jika diberi dasar ilmu. Socrates mempunyai paham bahwa “keutamaan itu adalah ilmu”[1]
Pengaruh Socrates menimbulkan berbagai aliran ilmu akhlak (etika). Dua golongan atau aliran yang terpenting adalah aliran Cynics dan aliran Cyrenics. Golongan Cynics yaitu pengikut ajaran Sutiscanes (444-370 SM) ajarannya ialah Tuhan itu bersih dari kebutuhan, tidak membutuhkan apa-apa dan sebaik-baik orang itu adalah orang yang sama akhlaknya dengan akhlak Tuhan. Tokoh aliran ini ialah Deoganis. Dia mengajarkan kepada murid-muridnya supaya membuang semua kebiasaan manusia, merasa cukup dengan sedikit, rela menderita, memandang hina kepada kekayaan, menghindari kesenangan, dan tidak menghiraukan kemiskinan dan cemoohan orang, asal mereka tetap memegang “keutamaan”.
Adapun golongan Cyrenics, berpendapat bahwa mencari kesenangan dan menjauhi penderitaan itu adalah tujuan hidup yang benar. Keutamaannya adalah jika kesenangan lebih besar dari pada penderitaannya. Tokohnya ialah Aristbus. Golongan ini memandang kebahagiaan itu dalam mencapai dan memperbanyak kesenangan. Golongan Epicurus dan golongan Stoics pengikut aliran Cyrenics namun berlainan dalam cara mempelajari akhlak (etika). Filosof Perancis, yaitu Gancogne (1592-1655) pengikut Epicurus yang menghidupkan ajaran-ajarannya. Kebanyakan filosof Yunani dan Romawi mengikuti aliran Stoics.
Datanglah Plato (429-347 SM) murid Socrates, dia berpendapat bahwa dibelakang alam wujud (fisik) ada alam lain yang bersifat ruhani (metafisika) dan setiap benda yang berjasad itu mempunyai gambar yang tidak berjasad di alam ruhani. Dia juga berpandapat bahwa di dalam jiwa ada berbagai kekuatan yang berlainan, dan keutamaan timbul dari keseimbangan kekuatan-kekuatan itu yang juga tunduk kepada akal. Menurut ajarannya terdapat empat pokok-pokok keutamaan yaitu kebijaksanaan, keberanian, kesucian, dan keadilan, yang manjadi syarat untuk tegak dan lurusnya bangsa-bangsa dan perseorangan.
Kemudian datang Aristo atau Aristoteles (384-322 SM) murid Plato. Dia membuat aliran baru dan pengikutnya dinamakan peripatetics. Dia berpendapat bahwa tujuan terakhir manusia adalah kebahagiaan. Cara mencapai kebahagiaan  menurutnya ialah dangan mempergunakan kekuatan akal sebaik-baiknya. Aristoteles juga menciptakan teori “tengah-tengah” yaitu setiap keutamaan berada diantara dua keburukan.
Pada akhir abad III tersebarlah Agama Nasrani di Eropa, jalan pikiran orang Eropa juga berubah. Mereka menyebarkan pokok-pokok ajaran akhlak yang terdapat dalam kitab Taurat, dengan menyatakan bahwa Allah adalah sumber akhlak yang menciptakan segala kaidah dan patokan dalam perilaku yang menerangkan baik dan buruk. Kebaikan semua itu untuk mencari kerelaan Allah .
B.  AKHLAK FASE ARAB PRA ISLAM
kehidupan baik dan kemuliaan cukup. Namun mereka juga pemarah yang luar biasa, perampok, perampas, saat mereka merasa diancam. Kehalusan perangai bangsa Arab dapat dilihat dari syair-syair mereka, Pada zaman jahiliah bangsa Arab memiliki perangai halus dan rela dalam saat contohnya syair Zuhair ibn Abi Salam yang mengatakan : “Siapa yang menempati janji tidak akan tercela, dan siapa yang membawa hatinya menuju kebaikan yang menentramkan, tidak akan ragu-ragu”.[2] Adapun Amir ibnu Dharb Al-‘Adwaniy “pikiran itu tidur dan nafsu bergejolak. Sesungguhnya penyesalan itu akibat kebodohan”.
Aktsam ibn Shaify juga mengatakan “ jujur adalah pangkal keselamatan; dusta adalah kerusakan; kejahatan adalah kekerasan; ketelitian adalah sarana menghadapi kesulitan; kelemahan adalah penyebab kehinaan. Penyakit pikiran adalah nafsu, dan sebaik-baik perkara adalah sabar”.[3] Amr ibn al-Ahtam pernah mengatakan kepada budaknya “Sesungguhnya kikir itu merupakan perangai yang akurat lelaki pencuri; bermurahlah dalam cinta karena sesungguhnya kedudukan suci dan tinggi adalah oang yang belas kasih. Orang yang mulia akan takut mencelamu, dan bagi kebenaran memiliki jalan sendiri bagi orang-orang yang baik”.[4]
Dapat dipahami bahwa bangsa Arab sebelum islam telah memiliki pemikiran yang minimal dalam bidang akhlak, dan  belum sebanding dengan kata-kata hikmah dari filosof-filosof Yunani kuno. Memang pada saat itu dari kalangan bangsa Arab belum diketahui adanya para ahli filsafat dan aliran-alirannya. Hanya ada orang-orang arif bijaksana dan ahli-ahli syair yang menganjurkan untuk berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan.
Setelah agama islam datang, munculah keyakinan bahwa Allah adalah sumber dari sagala sesuatu yang ada di dunia ini. Semua yang ada dilangit dan di bumi adalah ciptaan sang Khalikul Alam.
C.  AKHLAK FASE ISLAM
Islam datang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.,islam menerima setiap kebiasaan terpuji yang terdapat pada bangsa Arab serta menolak semua yang dianggap jelek (menurut petunjuk wahyu, yaitu Al-quran dan As-sunnah). Islam membawa akhlak mulia yang menjadi dasar kebaikan hidup umat manusia dan alam seluruhnya. Pemikiran bangsa Arab setelah Al-quran turun dari segi akhlak menjadi luas dan berkembang, juga lebih jelas arah dan sasarannya. Mereka telah diberi nikmat (islam) oleh Allah, mereka juga mamapu dalam menulis syair-syair dan karya tulis sastra yang mendidik melalui kata-katanya yang hikmah dan terdapat pesan-pesan yang berkaitan dangan akhlak-akhlak yang sifatnya praktis.
Di kalangan bangsa Arab, sedikit sekali orang yang mempelajari akhlak secara ilmiah meskipun mereka telah maju dalam lapangan pengetahuan. Itu karena mereka merasa cukup dengan ajaran akhlak dari agama  dan tidak butuh dengan pembahasan ilmiah. Abu Nashr Al-Faraby dan Abu ‘Ali bin Sina mempelajari akhlak sacara ilmiah juga mempelajari filsafat Yunani, sehingga dalam ajaran mereka tentang akhlak terdapat alam pikiran Yunani. Pembahasan akhlak terbesar di kalangan Arab adalah Ibnu Miskawaih dalam kitabnya Tadzibul Akhlak wa-Tathhirul ‘Araq, yang membahas campuran akhlak secara ilmiah dengan ajaran-ajaran Plato, Aristo, Galinus, dan ajaran-ajaran islam.
Abah Ibnu Thiby telah memadukan antara takwa kepada Allah dengan bakti kepada orang tua dalam hal kebaikan. Hanya saja dalam tuntunan wahyu ada koreksinya, yaitu Nabi melarang orang tunduk kepada makhluk sesamanya.
D.  AKHLAK FASE ABAD PERTENGAHAN
Eropa mulailah bangkitnya pada babak kedua abad xv dan para ahli menghidup-hidupkan kembali filsafat Yunani. Para ahli angkatan baru waktu itu mengeritik dan memperluas penyelidikan tentang masalah-masalah akhlak (etika) itu berdasarkan persoalan ilmu-ilmu lain yang telah ditemukan orang, seperti ilmu jiwa dan ilmu kemasyarakatan, Mereka cenderung kepada kenyataan, bukan kepada khayal. Pandangan baru ini menimbulkan perubahan dalam nilai keutamaan. Perhatian orang mulai tertuju kepada pentingnya dilakukan perhatian tentang pemuda, wanita dan anak-anak dalam susunan memasyarakatan. Telah mencapai sukses dalam menetapkan hak dan kewajiban.
Ilmu filsafat,termasuk didalamnya ilmu akhlak, waktu itu di Eropa pada abad-abad pertengahan, sangat tertekan, sebab gereja memusuhi filsafat Yunani dan Romawi dan menentang penyebaran ilmu dan kenegaraan. Gereja percaya bahwa hakikat kebenaran itu wahyu yang tidak  mungkin salah lagi. Wahyu hanya membolehkan orang berfilsafat dalam batas-batas tertenttu, sekadar memperkuat kepercayaan-kepercayaan keagamaan.
Di Eropa terjadi konfrontasi antara filsafat dan gereja. Gereja pada waktu itu memerangi filsafat  Yunani dan Romawi, dan menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan hakikat telah diterima dari wahyu. Namun diantara golongan gereja ada juga yang menerima percikan filsafat selama tidak bertentangan dengan ajaran gereja.
Inilah yang menciptakan suasana dimana filsafat akhlak yang lahir pada masa itu merupakan perpaduan antara ajaran Yunani dengan ajaran Nasrani. Pemuka-pemukanya yang termasyhur adalah  Abelard  (1079-1142) dan Thomas Aquinas (1226-1274).
Kemudian datang Shakespeare dan Hetzenner yang menyatakan adanya perasaan naluri pada manusia dapat digunakan untuk membedakan baik dan buruk.
E.  AKHLAK FASE MODERN
Periode modern dimulai dari tahun 1800 sampai fase kita sekarang, merupakan zaman kebangkitan umat islam. Ditandai dengan jatuhnya Mesir ke tangan Barat menginsyafkan dunia islam akan kelemahannya dan menyadarkan umat islam bahwa di Barat telah timbul peradaban baru yang lebih tinggi.[5]
Sejak Abad Pertengahan, zaman John Stuart Mill (1806-1873) dipindahkannya paham Epicurus ke paham Utilitarisme. Pahamnya terbesar di Eropa dan mempunyai pengaruh besar disana. Utilitarisme adalah paham yang memandang bahwa ukuran baik buruknya sesuatu ditentukan oleh kegunaannya
Herbert Spencer (1820-1903) mengemukaan paham pertumbuhan secara bertahap (evolusi) dalam akhlak manusia. Descartes (1596-1650) seorang ahli pikir Perancis yang menjadi pembangun mazhab rasionalisme. Segala persangkaan yang berasal dari adat kebiasaan harus ditolak.
Dari bahasan diatas dapat dipahami bahwa pada era modern itu bermunculan berbagai mazhab etika antara lain sebagai berikut:
v  Ada yang tetap mempertahankan corak paham lama
v  Ada yang secara radikal melakukan revolusi pemikiran
v  Tidak sedikit yang masih tetap konsisten mempertahankan etika teologis, yaitu ajaran akhlak yang berdasarkan ketuhanan (agama)
F.  KESIMPULAN
Sejarah Perkembangan Akhlak Pada Zaman Yunani Socrates dipandang sebagai perintis Ilmu Akhlak. Dia berpendapat akhlak dan bentuk perhubungan itu, tidak menjadi benar kecuali bila didasarkan ilmu pengetahuan. Lalu datang Plato (427-347 SM). Ia seorang ahli Filsafat Athena, yang merupakan murid dari Socrates. Buah pemikirannya dalam Etika berdasarkan ‘teori contoh’. Dia berpendapat alam lain adalah alam rohani. Kemudian disusul Aristoteles (394-322 SM), dia adalah muridnya plato. Pengukutnya disebut Peripatetis karena ia memberi pelajaran sambil berjalan atau di tempat berjalan yang teduh
Sejarah Akhlak pada Bangsa Romawi (Abad pertengahan) Pada abad pertengahan, Etika bisa dikatakan ‘dianiaya’ oleh Gereja. Pada saat itu, Gereja memerangi Filsafat Yunani dan Romawi, dan menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno.Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan hakikat telah diterima dari wahyu. Dan apa yang terkandung dan diajarkan oleh wahyu adalah benar. Jadi manusia tidak perlu lagi bersusah-susah menyelidiki tentang kebenaran hakikat, karena semuanya telah diatur oleh Tuhan.
Sejarah Akhlak Pada Bangsa Arab Sebelum IslamBangsa Arab pada zaman jahiliah tidak mempunyai ahli-ahli Filsafat yang mengajak kepada aliran atau faham tertentu. Hal itu terjadi karena penyelidikan ilmu tidak terjadi kecuali di Negara yang sudah maju. Waktu itu bangsa Arab hanya memiliki ahli-ahli hikmat dan sebagian ahli syair. Yang memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, mendorong menuju keutamaan, dan menjauhkan diri dari kerendahan yang terkenal pada zaman mereka.


G.  DAFTAR PUSTAKA

Zahruddin, Drs. 2004. Pengantar studi islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persaja.
Ardani, Moh., Akhlak Tasawuf (Nilai-nilai Akhlak/Budipekerti dalam Ibadat dan tasawuf), (Jakarta: PT Karya Mulia, 2005)
Soleiman, Abjan , Ilmu Akhlak (Ilmu Etika), (Jakarta: Dinas Rawatan Rohani Islam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat,1976)


[1] Ahmad Amin, op. cit
[2] Dr.Yusuf Musa, Falsafatu Akhlak il Islam, Kairo, tahun 1963, hlm.86
[3] Ibid hlm. 10
[4] Ibid hlm. 12
[5] Dr.Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1975, hlm. 13

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

STANDAR BAIK DAN BURUK BERDASARKAN AJARAN AKHLAK MORAL DAN ETIKA


Prodi/Semester            : MEPI 1/I
Mata Kuliah                : Akhlak dan Tasawuf
Judul Makalah             : Standar Baik dan Buruk Berdasarkan Ajaran Akhlak
                          Moral dan Etika
Kelompok 3                : 1. Aal Jayalia
                                      2. Darto Ariyanto
                                      3. Ragil Liliyani


STANDAR BAIK DAN BURUK
BERDASARKAN AJARAN AKHLAK MORAL DAN ETIKA

Akhlak  Menurut Imam Al-Ghazali adalah sifat yang melekat diri seseorang yang menjadikannya dengan mudah bertindak tanpa banyak pertimbangkan lagi. Ada pula sebagian ulama mengatakan bahwa akhlak itu adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang dimana sifat itu akan timbul dengan mudah karena sudah menjadi kebiasaan.
اَلْخُلُقُ عَادَةُ اْلإِرَدَةِ
“ Khuluq (akhlak) ialah membiasakan kehendak.”
1.      Baik dan buruk
Pengertian baik menurut ethik adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu tujuan. Sebaliknya, yang tidak berharga tidak berguna untuk tujuan, apabila yang merugikan, atau yang menyebabkan, tidak tercapainya tujuan adalah ”buruk”.
Tujuan dari masing-masing sesuatu,walaupun berbeda-beda,semuanya akan bermuara kepada satu tujuan yang dinamakan baik,semuanya mengharapkan mendapatkan yang baik dan bahagia,tujuan yang akhir yang sama ini dalam ilmu ethik ”kebaikan tertinggi”, yang dengan istilah latinnya di sebut Summum Bonum atau bahasa arabnya Al-khair al-Kully.
Kebaikan tertinggi ini bisa juga di sebut kebahagiaan yang universal atau Universal Happiness.
Allah Berfirman :
وَلِكُلِّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّهَا . فَاسْتَبِقُوا اْلخَيْرَاتِ ( البقرة : ١٤٨)
”dan setiap sesuatu (niat) mempunyai tujuan yang ingin di capainya,maka berlomba-lombalah kalian ( membuat ) kebaikan”
2.      Benar dan Salah
Pengertian benar, menurut etika (ilmu akhlak) ialah hal-hal yang sesuai/cocok dengan peraturan-peraturan. Sebaliknya pengertian salah menurut etika ialah hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
Kebenaran yang objektif, yang merupakan kebenaran yang pasti dan satu itu adalah kebenaran yang didasarkan kepada peraturan yang dibuat oleh yang Maha satu, Maha mengetahui akan segala sesuatu yang Maha benar. Karena itu, satu-satunya kebenaran yang objektif adalah kebenaran yang dibuat oleh yang Maha satu yang Maha benar itu. Dan peraturan yang dibuat manusia yang bersifat relatif itu adalah benar apabila tidak bertentangan dengan peraturan yang obyektif yang dibuat oleh yang maha satu yang maha benar. Yakni peraturan yang tidak bertentangan dengan wahyu, karena kebenaran mutlaq adalah kebenaran dari yang maha benar.
Allah SWT. Berfirman :
اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ اْلمُمْتَرِيْنَ ( البقرة : ١٤٧)
“kebenaran adalah dari tuhanmu dan janganlah kalian termasuk orang yang ragu-ragu”.
Di dalam akhlak islamiyah,untuk mencapai tujuan baik harus dengan jalan yang baik dan benar. Sebab ada garis yang jelas antara yang boleh dan tidak boleh; ada garis damarkasi anatar yang boleh di lampaui dan yang tidak boleh di lampaui, garis pemisah antara yang halal dan yang haram. Semua orang muslim harus melalui jalan yang di bolehkan dan tidak boleh melalui jalan yang dilarang. Bahkan antara yang hala dan yang haram tidak jelas, disebut Syubhat,orang muslim harus berhati-hati, jangan sampai jatuh di daerah yang Syubhat, sebab di khawatirkan akan jatuh di daerah yang haram.
Sebagaimana sabda Rasullullah SAW :
اِنَّ اْلحَلاَلَ بَيِّنٌ , وَاِنَّ اْلحَرَامَ بَيِّنٌ , وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَيَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ , فَمَنِ اتَّقَي الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ , وَمَنْ وَقَعَ الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فيِ اْلحَرَامِ . كَالرَّاعِي يَرْعَي حَوْلَ اْلحِمَى يُوْشِكُ اَنْ يَقَعَ فِيْهِ , اَلاَ وَاِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى , اَلاَ وَاِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ اَلاَ وَاِنَّ فيِ اْلجَسَدِ مُضْغَةً , اِذاَ صَلُحَتْ صَلُحَ اْلجَسَدُ كُلُّهُ , وَاِذاَ فَسَدَتْ فَسَدَ اْلجَسَدُ كُلُّهُ اَلاَ وَهِيَ اْلقَلْبُ ( متفق عليه )
”sesungguhnya halal itu jelas dan sesungguhnya haram itu jelas. Dan diantara keduanya ada beberapa Syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia oleh karena itu barang siapa menjauhi Syubhat (keadaan tidak jelas, sesunnguhnya (berarti) ia telah membersihkan agamanya dan kehormatan dirinya.; dan barang siapa yang termasuk di dalam syubhat akan termasuk kedalam, sebagaimana gembala yang mengembala di keliling batas, hampir ia akan jatuh ke dalamnya. Ketahuilah, bahwa tiap-tiap milik da batasnya; dan ketahuilah, bahwa batas-batas allah ialah larangan-larangan-Nya.
Dan ketahuilah, bahwasanya di tubuh itu ada sekepal daging, yang apabila dia bersih, bersihlah tubuh semuanya; dan apabila dia rusak rusaklah tubuh semuanya; dan ketahuilah, dia ialah ”hati”.
Jadi, menurut akhlak islam, perbuatan itu disamping baik juga harus benar, yang benar juga harus baik. Sebab dalam ethik yang benar belum tentu baik, dan yang baik belum tentu benar.

3.      Adanya kebaikan
Banyak orang yang mengira bahwa orang yang mebgetahui tentang baik itu otomatis menjadi baik; orang yang mengetahui ilmu akhlak menjadi orang yang berakhlak mulia; seperti halnya orang yang mengetahui ilmu agama, pandai dalam ilmu agama menjadi orang yang beragama dengan baik. Belum tentu orang  pandai tentu dalam ilmu agama itu menjalankan agama secara baik, seperti halnya orang yang tahu akan ilmu akhlak belum tentu menjadi orang yang berakhlak mulia.
Letaknya kebaikan itu pada dua hal :
Pertama           : pada adanya kemauan, will, iradah atau niat; dan
Kedua             : pada praktek, action atau amaliah.

Kemauan menjadi modal utama untuk berakhlak. Seseorang yang tahu akan baik, mengetahui baiknya sesuatu, mengetahui betapa baiknya jujur, adil, dermawan, ramah, sopan, rendah hati, dll. Tapi apabila dia tidak mau melakukan berbuat jujur, tidak mau berbuat adil, tidak mau dernawan, tidak mau ramah, tidak mau berbuat sopan, dan sebagainya, maka dia tidak menjadi orang yang baik tersebut. 
Kalau kita ingin akan menjadi baik, kita harus menjalankan kebaikan itu. Kalau kita ingin menjadi orang beragama kita harus melaksanakan ketentuan-ketentuan agama. Dan kebaikan ini akan menjadi akhlaknya apabila perbuatan baik itu dibiasakannya. Tidak cukup untuk disebut beakhlak baik apabila nelakukan kebaikan itu tidak menjadi kebiasaannnya. Umpamanya sholat hanya sesekali atau puasanya sering ditinggalkan dan zakatnya tidak diberikan dan lain sebagainya.

4.      Macam Perbuatan Baik Menurut Ethika
Yang baik pada garis besarnya ada dua macam : yaitu baik dan terbaik. Diluar daripada itu adalah tidak baik, ahli yunani kuno, menurut plato. Ujung tengah antara ujung yang baik itu adalah yang benar ditengah sebelum ujung awal adalah kurang dans esudah ujung akhir, awal dan ujung akhir adalah terlalu.
Seperti ahli filsafat didalam akhlak islamiyah sama dengan pendapat ahli : sabda Rasulullah SAW.
خَيْرُ اْلأُمُوْرِ اَوْسَطُهَا
“ sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya “
Yang penting didalam hal pertengahan itu adalah yang muwadamah, kontinyu dan istiqomah.

5.   Gambaran Akhlak Rasulullah SAW.
      Rasulullah Saw adalah orang yang banyak berdoa dan selalu merendahkan diri. Beliau selalu memohon kepada Allah Swt supaya dihiasi dengan etika yang baik dan akhlak terpuji. Dalam doanya, beliau selalu membaca :
الله حَسِّنْ خَلْقِي وَخُلُقِي
“ Ya Allah, perindahlah rupa dan akhlakku.”
      Sa’id bin Hisyam bercerita : aku masuk menemui Aisyah ra, dan bertanya kepadanya tentang akhlak Rasulullah Saw. Aisyah menjawab dengan pertanyaan, ”Apakah engkau membaca Al-Qur’an?” Akupun menjawab, ”Ya.” Aisyah berkata, ” Akhlak Rasulullah Saw adalah al-Qur’an.”
      Rasulullah Saw bersabda , ”Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

6.   Standar Baik dan Buruk Berdasarkan Sifat yang ada pada Jiwa Manusia
Ada beberapa sifat manusia yang mendorong manusia pada perbuatan dosa, diantaranya yaitu :

1.      Sifat Ketuhanan (Rububiyah)
Diantara sifat ketuhanan yang ada pada diri manusia yaiut sifat takabbur, yang menganggap dirinya merasa lebih besar dan yang lain di anggap kecil dan bahkan menganggap lebih rendah lagi, merasa dirinya hebat karena merasa dirinya lebih bisa dan yang lain dianggap bodoh. Terkadang didalam diri manusia terdapat sifat ingin dipuji, semua gerak dan pekerjaannya ingin dilihat orang lain dengan tujuan ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Disamping itu juga ada sifat ketuhanan yang bleh ditiru manusia seperti sifat Allah SWT. Yang maha pengasih dan Penyayang serta penuh pengampunan dan lain sebagainya.
2.      Sifat Syetan (Syaithoniyah)
Apabila sifat-sifat syetan berpindah pada manusia, maka manusia itu akan melakukan perbuatan dosa selamanya, diantara sifat yang disenangi syetan yaitu hasud, berbuat curang, dan menipu. Orang yang dipenuhi sifat seperti akan selalu berbuat dosa dan mengajak pada kemungkaran, hatinya tidak ingin melakukan suatu kebaikan.

3.      Sifat Hewan (Bahimiyah)
Penyebab selanjutnya yang membuat manusia berani melakukan perbuatan dosa, karena terdapat sifat hewan didalam dirinya seperti toma atau rakus, nafsu syahwat yang tidak bisa dikendalikan, mengambil hak orang lain tidak menghiraukan halal dan haramnya, yang penting kebutuhannya terpenuhi.
4.      Sifat Hewan Buas (Sabu’iyah)
Lebih berbahaya lagi bila manusia mempunyai sifat hewan buas, sebab sifat seperti ini berani membunuh segalanya, perkerjaannya hanya marah dan keinginannya mencelakakan orang lain.
      Dari keempat sifat diatas menjelaskan bahwa bentuk perbuatan dosa yang dilakukan manusia, ada yang menjadi dosa besar ada juga yang menjadi dosa kecil. Tapi kalu dilihat secara garis besar macam-macam dosa di bagi menjadi 2 bagian yaitu dosa antara manusia dan tuhannya dan ada dosa antara manusia dengan manusia. Adapun yang termasuk dosa antara manusia dan tuhannya diantaranya yaitu meninggalkan shalat,meninggalkan puasa,dan tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban untuk diri sendiri. Sedangkan dosa yang berhubungan antara manusia dengan manusia lagi diantaranya tidak mengeluarkan zakat,membunuh,merampas harta orang lain,merusak kehormatan nama orang lain,dan semua pelanggaran yang termasuk hak-hak umum atau yang menyangkut harta,jiwa,agama dan lain sebagainya.
      Kalau dilihat dari besar dan kecilnya dosa dibagi menjadi dua, yaitu dosa besar yang diistilahkan dengan kabaair, dan dosa kecil yang disebut sayyiaat. Mengikuti keterangan Imam Al-Gazali dosa besar itu jumlahnya ada 17 macam sedangkan dosa kecil sangat banyak sekali. Dari ke 17 dosa besar itu di bagi menurut tempat  atau bagian tubuh kita yang melakukannya.
1.       Empat (4) macam dosa yang ada di dalam hati manusia yaitu : musyrik,melakukan ma’siat selamanya,putus asa dari jalan untuk mendapat rahmat Allah SWT,dan merasa aman dari ancaman dan siksa gusti Allah SWT.
2.       Empat (4) macam dosa ada pada lisan yaitu : menjadi saksi palsu atau berbohong,memfitnah,menjadi tukang sihir dan sumpah palsu.
3.       Tiga (3) macam dosa ada pada perut yaitu : meminum minuman keras yang bisa merusak akal manusia, memakan uang haram, dan memakan harta anak yatim.
4.       Dua (2) macam dosa ada pada kemaluan (farji) yaitu : melakukan zina, dan liwath (homoseksual atau lesbian)
5.       Dua (2) macam dosa ada pada tangan seperti : membunuh dan mencuri
6.       Satu macam dosa ada pada kaki, yaitu : lari atau kabur dari peperangan
7.       Satu macam dosa ada pada seluruh anggota badan, yaitu : durhaka kepada kedua orang tua.

7.   Standar baik dan buruk berdasarkan ajaran akhlak, moral,dan etika
Ada ada beberapa aliran untuk menentukan standar baik dan buruknya sesuatu itu, diantarnya :
  1. Aliran Idealisme
Aliran ini memandang bahwa kebenaran yang hakiki tidak dapat dilihat melalui panca indra semata, karena semua sesuatu yang tampak melalui panca indra hanya merupakan kepalsuan belaka dan bukan sesuatu yang sebenarnya. Jadi kesimpulan dari aliran ini, bahwa  untuk mengetahui sesuatu itu baik atau buruk maka dapat diukur dengan cita.
  1. Aliran Naturalisme
Aliran ini memandang bahwa untuk menilai sesuatu yang baik dan buruk itu dapat dipengaruhi oleh pembawaan manusia sejak lahir kedunia. Dengan kata lain manusia sejak anak-anak dapat menilai sesutau itu baik ataupun buruk, akan tetapi dia belum bisa menganalisis mengapa sesuatu itu baik ataupun buruk. Untuk bisa menganalisis sesuatu itu baik dan buruk diperlukan pengalaman hidup yang lama, karena semakin lama pengalaman hidupnya maka semakin matang pemahamannya terhadap sesuatu yang baik dan buruk. Dengan ini dapat ditegaskan bahwa menilai sesuatu itu ditentukan oleh kebutuhan  dan kondisi wilayah yang ditempati oleh manusia.
  1. Aliran Hedonisme
Hedonisme merupakan aliran filsafat tua yang berakar dai pemikiran filsafat Yunani. Menurut aliran ini sesuatu yang dikategorikan baik itu adalah sesuatu yang bisa mendatangkan kenikmatan nafsu biologis. Sedangkan sesuatu yang buruk itu adalah sesuatu yang tidak memberikan kenikmatan nafsu biologis. Sehingga aliran ini menitikberatkan bahwa kebahagian itu terletak pada kepuasan biologis dan hal itu merupakan tujuan hidup bagi mereka yang beraliran hedonisme.

  1. Aliran Teologi Islam
Dalam teologi islam banyak beberapa aliran yang berkembang diantaranya
a.      Aliran Jabariyah
Aliran ini disebut Jabariyah dikarenakan sifatnya memaksa, sehingga kaum ini berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kebebasan dan kekuasaan dalam menentukan keinginannya, kecuali bila Allah yang menghendakinya. Dengan kata lain manusia hanya dikendalikan oleh Allah dan Allahlah yang telah menciptakan sifat manusia. Dan untuk menilai sesuatu itu baik ataupun buruk, aliran ini mengatakan bahwa hanya agamalah yang bisa menentukan baik dan buruknya.
b.      Aliran Qadariyah
Aliran ini merupakan pertentangan dari aliran Jabariyah yang mana menurut aliran ini manusia memiliki kebebasan dan kekuasaaan dalam menentukan keinginaannya. Meskipun pada dasarnya Allah atas manusia manusia diberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Dan aliran ini juga mengatakan bahwa penilain terhadap baik dan buruknya sesuatu itu bukan hanya ditentukan oleh agama melainkan ditentukan juga oleh manusia itu sendiri.

c.       Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah mengatakan bahwa akal  manusia tidak dilarang untuk berfikir sebebas-bebasnya termasuk memikirkan tentang persoalan agama. Karena itu dalam menentukan setiap nash (dalil), aliaran Mu’tazilah selalu menentukan nash (dalil) yang akan dijadikan dasar pemikirannya. Dan untuk menentukan baik dan buruknya sesuatu, aliran Mu’tazilah selalu berorientasi pada akalnya dan kemudian mencari nash (dalil) yang mendukungnya. Sehingga aliran ini sering juga disebut sebagai aliran Rasionalisme.
d.      Aliran Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah
Adanya aliran Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah merupakan reaksi dari aliran Mu’tazilah yang menganggap bahwa dalam memecahkan persoalan hanya dengan filosofisnya saja dan tidak dibandingkan dengan teologi sebelumnya (sunnah Nabi). Maka lain halnya dengan aliran Mu;tazilah, aliran Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah banyak menggunakan sunnah Nabi dalam menentukan sesuatu itu baik atupun salah dan lebih mendahulukan nash (dalil) baru kemudian akal yang menjelaskannya. Dan aliran Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah juga menambahkan bahwa untuk menentukan sesuatu itu benar dan buruk itu sudah ditentukan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadist.
  1. Aliran Tasawuf
Menurut aliran Tasawuf nilai baik dan buruk sesuatu itu bisa dilihat dari perasaan bahagia. Bahagia disini bisa dikategorikan sebagai perasaan yang spirititual.  Maka tidak heran dalam aliran Tasawuf sangat popular istilah zuhud, yaitu suatu sikap yang menunggalkan kesenangan dunia yang bersifat materil.

DAFTAR PUSTAKA

a.       Ahmad Solihin, Khutbah Jum’at Petingan Jilid I, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2000
b.      Fudhoilurrahman dan Aida Humaira, Ringkasan Ihya ’Ulumuddin, Terjemahan, Jakarta, Sahara publishers, 2009
c.       Rachmat Djatnika, Sistem Ethika Islami (akhlak mulia), Jakarta, Pustaka Panjimas, 1992



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS