Ajuran Mencari Rezeki


ANJURAN MENCARI REZEKI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata kuliah Tafsir Ayat Ekonomi Jurusan Muamalah Ekonomi Perbankan Islam
 
Oleh kelompok 3 :
1.     Agus Nurrohman Sidiq
2.    Mawar Jannati al Fasiri
3.    Zaki yatunnisa K
 KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIAINSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBONOktober 2012   KATA PENGANTAR Pertama-tama penulis ingin mengucapkan Puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas kehendaknya makalah ini dapat terselesaikan pada waktunya . Makalah yang berjudul “ANJURAN MENCARI REZEKI ” diselesaikan dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Ayat Ekonomi.Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat. Penulis mengakui bahwa manusia mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal . Dalam pembuatan makalah ini penulis banyak kekurangan, oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat  sempurna  untuk itu penulis memohon agar guru pembimbing materi dan pembaca dapat memakluminya. Penulis  memgharapkan kritik dan saran dari hasil makalah ini. Demikian makalah ini penulis buat, penulis ucapkan terima kasih. Cirebon,  Oktober  2012                               Penulis
 Ø AJURAN MENCARI REZEKI
A.  AL QOSOS AYAT 77 :
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَاأَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَDan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari [keni’matan] duniawi dan berbuat baiklah [kepada orang lain] sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di [muka] bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan .
Tafsir Surah Al Qashash 77 وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (77) Pada ayat ini Allah SWT menerangkan empat macam nasihat dan petunjuk yang ditujukan kepada Karun oleh kaumnya. Barangsiapa mengamalkan nasihat dan petunjuk itu akan memperoleh kesejahteraan di dunia dan di akhirat kelak. 1. Orang yang dianugerahi oleh Allah SWT kekayaan yang berlimpah-limpah, perbendaharaan harta yang bertumpuk-tumpuk serta nikmat yang banyak, hendaklah ia memanfaatkan di jalan Allah, patuh dan taat pada perintah-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya di dunia dan di akhirat. Sabda Nabi saw: اغتنم خمسا قبل خمس شبابك قبل هرمك وصحتك قبل سقمك وغناك قبل فقرك وفراغك قبل شغلك وحياتك قبل م\وتك. Artinya: Manfaatkan yang lima sebelum datang (lawannya) yang lima; mudamu sebelum tuanmu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu senggangmu sebelum kesibukanmu dan hidupmu sebelum matimu. (H.R. Baihaki dari Ibnu Abbas) 2. Janganlah seseorang itu meninggalkan sama sekali kesenangan dunia baik berupa makanan, minuman dan pakaian serta kesenangan-kesenangan yang lain sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran yang telah digariskan oleh Allah SWT, karena baik untuk Tuhan, untuk diri sendiri maupun keluarga, semuanya itu mempunyai hak atas seseorang yang harus dilaksanakan. Sabda Nabi Muhammad saw: اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا Artinya: Kerjakanlah (urusan) duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya. Dan laksanakanlah amalan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok. (H.R. Ibnu Asakir) 3. Seseorang harus berbuat baik sebagaimana Allah SWT berbuat baik kepadanya, membantu orang-orang yang berkeperluan, pembangunan mesjid. madrasah, pembinaan rumah yatim piatu di panti asuhan dengan harta yang dianugerahkan Allah kepadanya dan dengan kewibawaan yang ada padanya, memberikan senyuman yang ramah tamah di dalam perjumpaannya dan lain sebagainya. 4. Janganlah seseorang itu berbuat kerusakan di atas bumi, berbuat jahat kepada sesama makhluk Allah, karena Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Allah SWT tidak akan menghormati mereka, bahkan Allah tidak akan memberikan rida dan rahmat-Nya.TAFSIR NYA :          Dan hendaklah engkau gunakan kekayaan yang Allah berikan kepadamu itu untuk beribadah kepada Tuhanmu dan berbuat baik kepada sesama manusia dengan jalan menafkahkan sebagian dari harta kekayaanmu untuk menolong mereka yang membutuhkan pertolonganmu dan disamping itu janganlah engkau melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi yang diperkenakan oleh allah berupa makanan , minuman , pakaian , perkawinan dan perumahan , asalkan saja jangan sampai melampaui batas dan janganlah engkau dengan kekayaanmu itu berbuat kerusakan dan berlaku sewenang – wenang diatas bumi allah ini , karena Allah sekali – kali tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan.MUFRADAT :ابْتَغ = carilah
فِيمَا = pada apa
آتَاكَ اللَّهُ = yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
الدَّارَ الْآخِرَةَ= negeri akhirat
لَا تَنْسَ = janganlah kamu melupakan
نَصِيبَكَ = kebahagiaanmu
أَحْسِنْ = berbuat baiklah
كَمَا = sebagimana
أَحْسَنَ اللَّهُ= allah telah berbuat baik
تَبْغِ الْفَسَادَ = berbuat kerusakan
إِنَّ اللَّهَ = sesungguhnya allah
الْمُفْسِدِينَ = berbuat kerusakan
A.  Al aqhaf ayat 35 :اصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَArtinya :  Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.اصْبِرْ = maka bersabarlah ( muhammad )
كَمَ = sebagaimana
 صَبَرَ=  telah bersabar
 أُولُو= orang orang yang mempunyai
 الْعَزْمِ= keteguhan hati / kesabaran
 مِنَ= dari
 الرُّسُلِ= para rasul ( sebelum engkau )
 وَلَا= dan jangan
 تَسْتَعْجِلْ= engkau minta segerakanlah ( datang azab )
 لَهُمْ ۚ = bagi mereka
كَأَنَّهُمْ = seakan – akan mereka
 يَوْمَ= pada hari
 يَرَوْنَ= mereka melihat
 مَا= apa ( azab ) yang
 يُوعَدُونَ= dijanjikan ( kepada ) mereka
 لَمْ = tidak
يَلْبَثُوا = mereka ( tinggal didunia )
 إِلَّا سَاعَةً= kecuali sesaat
 مِنْ= dari
 نَهَارٍ ۚ= siang hari
 بَلَاغ= ( al quran ini adalah ) penjelasan ( dari Allah )
 فَهَلْ    = maka tidak              
يُهْلَكُ  = dibinasakan ( ketika melihat siksaan )
إِلَّا = kecuali
 الْقَوْمُ= kaum
 الْفَاسِقُونَ= orang – orang kafir / fasik
Tafsir Ulul Azmi Surat al-Ahqaf ayat  35 Dr.H.AHmad Hasan Ridwan,M.Ag.Ayat ini menjelaskan tentang ketetapan Allah pada tiga perkara: 1. Tauhid, 2. Kenabian dan pembalasan. Kemudian Allah SWT. Menjelaskan tentang perilaku orang-orang kafir yang selalu menyakiti dan melukai hati nabi.Ulul Azmi dimaknai sebagai sosok nabi yang memiliki kesungguhan (ulu al-jad, أولوا الجد), kesabaran (ulu ash-Shabr, والصبر) dan keteguhan (ulu ats-Tsabat, والثبات). (Az-Zamakhsyari: Al-Kasysyaf, 6:312).
Para ulama berbeda pendapat tentang kategori ulul azmi untuk para nabi, sehingga terdapat dua dua pandangan:Pertama, ulu al-‘Azmi adalah sebagian dari nabi, karena makna kata (min) adalah untuk sebagian (li at-Tab’id, للتبعيض), sehingga maksudnya adalah sebagian dari nabi-nabi. Sebagian para nabi itu adalah : nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan nabi Muhammad.
Kedua, bahwa seluruh rasul adalah ulu al-‘Azmi, berdasarkan argumentasi, bahwa kata min (libayan al-jinsi, لبيان الجنس) bahwa Allah SWT. Tidak mengutus Rasul kecuali mereka adalah sosok yang memiliki karakter kesungguhan, sabar dan keteguhan. Kata min al-Rasul tidak menunjukkan sebagian (tab’id). (Ibnu Katsir: 7:305). Menurut al-Kilabi (tafsir al-Baghawi), Abu Zaid dan yang lainnya bahwa seluruh nabi adalah uluil azmi sebagai Q.S. Al-An’am ayat 90: “Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat”.
Dari dua pandangan di atas, maka pandangan pertama memiliki argumentasi yang lebih kuat, dengan argumentasi bahwa ayat di atas di takhsis oleh dua ayat berikut ini, yaitu: pendapat Ibnu Abbas dan Qatadah bahwa ulul azmi adalah terdiri dari lima nabi, berdasarkan Q.S. Al-Ahzab: 7 :“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil Perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka Perjanjian yang teguh”. Dan Q.S. Asy-syura: 13 : “Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama[1340] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”.Ayat ini juga menggambarkan kisah otentik para nabi yang mengemban amanat dari Allah SWT. dari perspketif ilmu qashash al-Qur’an/ atau ilmu stilistika, ahwa seluruh Unsur-unsur kisah pada umumnya ada tiga. Pertama, tokoh (ashkhas). kedua, peristiwa (ahâdith). Ketiga, dialog (hiwar). Ketiga unsur ini terdapat pada hampir seluruh kisah al-Qur'ân seperti kisah nabi Ibrahim, dengan pemaparan kisah Al-Qur'ân pada umumnya pendek  bukan kisah yang panjang.Kisah dalam Al-Qur'ân selalu diliputi oleh iklim keruhanian, yang dirasakan pada sikap dan ucapan tokoh-tokoh yang ditampilkannya. Jika kita menemukan kehangatan ruhaniah pada kalimat-kalimat dan lukisan perasaan para nabi, sehingga terasa ekpresif ketika para nabi mengungkapkan perasaan dan pendapatnya baik kepada umatnya, istrinya maupun kepada anaknya. Ciri ini secara khusus sangat menonjol pada cara mengungkapkan dan menampilkan sikap sabar dengan keputusan nabi ketika berhadapan dengan berbagai ujian, cobaan dan fitnah dari kaumnya. Para nabi  berbicara dengan bahasa ruhani, baik terhadap kaumnya yang mengikutinya, maupun terhadap kaumnya yang membangkang. Dia berbicara sebagai nabi yang melaksanakan misinya mengajak kepada tauhid. Dimensi ruhaniah dan misi terbingkai dalam kerangka tauhidnya, sebagaimana tergambar pada karakter dan sikap dalam perjalanan sejarahnya yang tertumpu pada sikap sabar yang melahirkan sikap-sikap (akhlak mahmudah) lainnya, yaitu : Ketaatan pada perintah Allah,  Kesalehan, tawakkal dan lainnya. Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/156) berkata: “Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menahan diri dari bermaksiat kepada Allah dan sabar dalam menghadapi ujian.” Selanjutnyab dalam kitab Madarijus Salikin (2/155) mengatakan: “Sabar dalam keimanan bagaikan kepala pada jasad; dan tidak ada keimanan tanpa sabar sebagaimana jasad tidak akan berfungsi tanpa kepala.” Al Imam Al Qurthubi dalam tafsir al-Qurthubi. Ia  menukilkan ucapan Sahl bin Abdillah At Tasturi: “Sabar ada dua macam yaitu sabar dari bermaksiat kepada Allah maka ini adalah seorang mujahid; dan sabar dalam ketaatan kepada Allah ini yang dinamakan ahli ibadah.Dalam al-Qur’an kata-kata sabar dijelaskan dalam 70 ayat. Banyaknya ayat yang mengungkap kesabaran para nabi sehingga sikap sabar dianggap sebagai mahkota dari sifat-sifat terpuji (akhlak mahmudah)Az-Zurjani dalam kitab at-Ta’rifat, menjelaskan bahwa sabar itu tidak berkeluh kesah ketika berhadapan dengan beratnya dan menyakitkannya cobaan (adam asy-l syakwa min alam al-balwa). Dengan demikian,  sabar berarti menahan diri atas perkara-perkara yang tidak disukai, demi mencari keredhaan Allah. Dalam keadaan apapun yang dihadapi oleh para nabi, maka tetap bertahan melakukannya demi keridhaan Allah. Tingginya nilai sabar telah menjadi hiasan para Nabi untuk menghadapi berbagai tantangan dakwah yang menghadang. Berhias diri dengan sabar hanyalah akan membuahkan kebaikan.
  B.     Surah Nuh 19 - 20
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا (19) لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا (20)Artinya : “ Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan ( ayat 19). Supaya kamu menjalani jalan – jalan yang luas di bumi itu “.( ayat 20)C.     An Nisa ayat 100
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًاArtinya : “ Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ#"Maka apabila shalat telah selesai dikerjakan, bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah rezeki karunia Allah". [Al Jumu’ah : 10]Tentang ayat ini, dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan: “Kemudian, Dia menyebutkan nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada makhlukNya dengan menyediakan bumi bagi mereka dan membentangkannya untuk mereka. Dia membuatnya sebagai tempat menetap yang tenang, tidak miring dan tidak juga bergoyang, karena Dia telah menciptakan gunung-gunung padanya. Dan Dia alirkan air di dalamnya dari mata air. Dia bentangkan jalan-jalan, serta menyediakan pula di dalamnya berbagai manfaat, tempat bercocok tanam dan buah-buahan. Dia berfirman:هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اْلأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا"(Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya)". Maksudnya, lakukanlah perjalanan ke mana saja yang kalian kehendaki dari seluruh belahannya, serta bertebaranlah kalian ke segala penjurunya untuk menjalankan berbagai macam usaha dan perdagangan. Ketahuilah, bahwa usaha kalian tidak akan macam usaha dan perdagangan. Ketahuilah, bahwa usaha kalian tidak akan bermanfaat bagi kalian sama sekali, kecuali jika Allah memudahkan untuk kalian. Oleh karena itu, Dia berfirmanوَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ(Makanlah sebagian dari rezekiNya). Dengan demikian, usaha yang merupakan sarana, sama sekali tidak bertentangan dengan tawakal.وَإِلَيْهِ النُّشُورُ(Dan hanya kepadaNya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan). Maksudnya ialah, tempat kembali pada hari Kiamat kelak. [Tafsir Ibnu Katsir, IV/420, Cet. Darus Salam].2-وَعَنْ اَبِى عَبْدِاللهِ الزُّبَيْرِبنِ العَوَّامِ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللهِ :لأَنْ يَأْخُذَ اََحَدُكُمْ اَحْبُلَهُ ثُمَّ يَاْتِى الْجَبَلَ فَيَاْتِىَ بِحُزْمَةٍ مِنْ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِخِ فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ اَعْطَوْهُ اَوْ مَنَعُوْهُ.Dari Abi Abdillah (Zubair) bin Awwam Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”. [HR Bukhari, no. 1471].Penjelasan :1). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan umatnya supaya berusaha memenuhi hajat hidupnya dengan jalan apapun menurut kemampuan, asal jalan yang ditempuh itu halal.2). Berusaha dengan bekerja kasar, seperti mengambil kayu bakar di hutan itu lebih terhormat daripada meminta-minta dan menggantungkan diri kepada orang lain.3). Begitulah didikan dan arahan Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjadikan umatnya sebagai insan-insan terhormat dan terpandang, dan bukan umat yang lemah lagi pemalas.4). Tidak halal meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak.5). Meminta-minta atau mengemis dalam Islam merupakan perbuatan yang hina dan tercela.6). Usaha dengan jalan yang benar tidak menafikan tawakkal kepada Allah.7). Seseorang tidak boleh menganggap remeh jenis usaha apapun, meskipun usaha itu dalam pandangan manusia dinilai hina.Hadist :1. sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan kalian berusaha , maka oleh sebab itu hendaklah kalian berusaha ( H. R. Thabrani )2. berdosalah seseorang  , apabila ia sia – siakan nafkah orang yang menjadi tanggungannya  (H. R. Nasai )1-عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:لَوْ اَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ, تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا.Dari Umar Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka niscaya Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi hari dalam keadaan perutnya kosong, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang”. [HR Tirmidzi, no. 2344; Ahmad (I/30); Ibnu Majah, no. 4164] 
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَPergunakanlah harta dan nikmat yang banyak diberikan allah kepadamu ini untuk mentaati tuhanmu dan mendekatkan diri kepadanya dengan berbagai macam cara pendekatan yang mengntarkanmu kapada perolehan pahalanya didunia dan akhirat.


   KESIMPULAN 1.      TAFSIR SURAH AL QASAS AYAT 77
Surah ini menjelaskan supaya kita menggunakan harta di jalan Allah supaya mendapat keridhoannya, dan janganlah kita melupakan yang telah Allah berikan dan janganlah kita menggunakan nikmat yang telah Allah berikan untuk berbuat kerusakan di muka bumi karena Allah tidak menyukai orang – orang yang berbuat kerusakan.2.      TAFSIR SURAH AL AHQAF AYAT 35
Ayat ini menjelaskan tentang ketetapan Allah pada tiga perkara: 1. Tauhid, 2. Kenabian dan pembalasan. Kemudian Allah SWT. Menjelaskan tentang perilaku orang-orang kafir yang selalu menyakiti dan melukai hati nabi.    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS